parodi
Bolehlah. Kamu mencubitku, memasukkan sendokmu ke dalam piringku, membenci lalu melupakanku sehari, membentakku hingga melotot kedua matamu, menutup telponku ketika marah padaku bahkan cemburu pada satu temenku karena kamu merasa memilikiku. Dari itu, maka berkembanglah kita. Aku sengaja tak melupakan namun tak bisa tak mengingatnya. Kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu, kamu, kamu, juga kamu. Kamu semuanya. Kita memang bukan sepasang, kita hanya berteman. Lebih. Katamu kita terlalu bersemangat. Kataku kita adalah Parodi. Kalo kata orang lain kita adalah sahabat. Aku dengan banyak sahabat.
Bahkan kamu tahu aku tak mampu menjadi manusia semampunya. Hanya bisa begini saja. Begini pun sudah lebih, menyenangkan bagiku. Tapi kamu, ato kamu, kamu, mungkin kamu, tetap menemani kenyataanku. Tetap menemani hariku memecah pasir menjadi debu. Tetap menemaniku mengambil bintang-bintang di langit dan menyimpannya di keranjangku. Dan slalu membantuku menjumlahkan bilangan ganjil menjadi genap. Teriakmu bilang bahwa kalian smua slalu ada di kursi masing-masing bersiap menemani kursiku. Ouh, kadang aku menangisi hawaku, apakah aku sebegitu di cintainya? Hingga di otak konyolku ingin memberi kamu, kamu, kamu ato kamu, kamu, rangking Parodi sahabat ato bahkan mungkin piagam penghargaan. Ukiran hati.
Kamu bilang ikut bahagia. Kamu bilang sedih merasa kehilanganku. Kamu bilang cemburu sama pasanganku. Dan kamu bilang dengan semangat akan menemuiku, di manapun kamu berapa. Dan kamu yang sana bilang kalo kamu sedih tak bisa datang menemuiku. Kamu bilang kamu sudah siapkan surprise kedatanganmu untukku. Belum lagi kamu, kamu, kamu ato kamu, kamu dan kamu. Aaahh, kamu, kamu, kamu, kamu, semuanya. Kalian semua. Banyak sekali kalian, Parodi.
Kalian bisa saja datang dan pergi. Menjauh lalu mendekat kembali. Ya ya ya, dari awal aku bisa menemuimu, mengenalmu hingga mendapatkanmu. Bahagiaku cukup. Dan bila tiba hariku, aku ingin menjumpai kamu, kamu, kamu ato kamu, kamu dan kamu semuanya di waktuku. Harus memelukku, dengan pundak melekat di dadaku. Semua tersenyum ya. Itulah mauku, bagaimana tidak?
Kalian semuanya, aku cinta padamu.
Iromejan, 7 maret 2011
-Tanggalku semakin dekat, shabat terbaik pun semakin dekat denganku. Mereka tak lagi bahagia untukku, tapi bahagia bersamaku
