Kecewa
Ini gawat. Susah tuk di relakan. Bukan dendam, ataupun tantangan adu nyali. Hanya saja ku kecewa..
Tapi jika memang aku pernah merasa kecewa, atau saat ini aku masih merasa kecewa apakah aku salah? Lihatlah pecahan hati di tanganku ini. Begitu gampangnya kedua mataku memandang pecahan hati yang telah membiru hampir beberapa tahun lamanya di rongga dadaku. Warnanya tak lagi berwarna merah, tapi warna biru tua hampir mendekati hitam. Inikah warna rasa kecewa itu? Aah… ini tak masuk akal bagiku. Sungguh.
Duduk di depan kaca. Lihat diri sendiri. Jangan pejam mata dulu, tetap tatap diriku. Jelas. Lebih jelas lagi. Makin jelas teramat.
Inikah aku? Inikah wanita yang mengaku kecewa? Tak pernah ku mengenalnya, bertatap muka dengannya, sekedar menyapa atopun berani memimpikannya. Untukku, kecewa adalah sosok yang tak terjamah oleh kasat mata dan pikiran. Meski begitu, sanggup aku sering mengulang untuk merasakannya. Dan bila sekarang aku kecewa atas batas kuasa yang tak bisa ku kendalikan lagi, aku bisa apa? Dan ini karena ulah kalian semua!! Jadi jangan anggap ini omong kosong!! Bukan!!!
Ini seperti dosa kecilku. Ini gelagat tak baikku. Maafkan aku. Aku mohon..
“Bila seperti ini keharusannya, aku memilih tak punya hati dan rasa. Jadi tak ku rasakan kecewa, bahagia, sedih atopun sakit hati. Cukup taruh rasa hambar di dekat jantungku saja. Baru itu namanya aku hidup..” tak ada lagi airmata berbentuk tetesan beserta isaknya. Ini lebih miris dari kedengarannya, sementara kedua mata ini terus meredup dan muka tertunduk.
Berdiri ku menghampiri kaca besar di hadapanku. Ku letakkan pecahan hati kecewaku di atas meja rias. “Tak ada harapan lagi..” ucapku sesaat lalu berjalan menjauh dari meja. Biarlah pecahan hati kecewaku tergeletak di sana.
Kembali ku melangkah keluar rumah. Terpampang jelas langit luas tak terbatas. Sampai di titik mana ku bisa menatapnya, tak akan pernah bisa. Tugasku hanya satu, mencari tempat tinggal Malaikat di salah satu bintangnya. Tapi sayangnya tak ada bintang terlihat di penglihatanku. Jadi bagaimana mungkin ada harapan itu. Berharap Malaikat keluar dari rumahnya dan menemuiku. Mencariku. Menemani kecewaku. Mengembalikan pecahan hati kembali utuh dan menyatu dengan jantungku.
Haaahh..
Alam memang menyayangiku. Tak ada berisik angin dingin seperti biasanya. Ku tahu ini musim gugur. Semua daun-daun yang berwarna hijau berubah coklat dan gugur satu persatu. Musim ini musim penantianku. Musim kesayangan Malaikat yang bearti pada musim ini salah satu Malaikat akan keluar dari rumahnya dan turun ke bumi.
“Malaikat di sana.. Aku pernah merasa kecewa. Sekarang pun masih. Bila kamu lewat depan rumahku, mampirlah sebentar di sini. Tengoklah hatiku. Hatiku telah pecah menjadi warna biru tua. Sumpah sakit hati atas perlakuan mereka yang dengan sadar tega menyakitiku pun telah ku ucap. Tapi itu dulu.. Sekarang dibawah langitmu, aku berdoa sambunglah pecahan hatiku. Restuilah hati ini kembali utuh dan kembalikan kebahagian mereka yang telah menyakitiku. Aku ikhlas. Jika di ijinkan olehmu..” tak ada lisan terucap. Hanya tatapan mata penuh permohonan yang ku pertontonkan ke atas langit. Seperti inilah kira-kira doaku untuk Malaikat. Di dalam malam, ku berdoa berharap Malaikat kan mencabut sumpah atas rasa kecewa dan sakit hatiku ke mereka.
Semua yang hidup di malam ini. Mungkin tingkahku ini agak konyol. Berdiri menatap langit sampai bosan berharap satu Malaikat mampir ke rumah, menunjukkan wujudnya dan menyambung pecahan hatiku. Ku tahu tak ada bintang malam ini, tapi tak apa. Biarkan aku tetap berdoa di bawah langitnya. Anggap saja beginilah caraku menenangkan diri.
“Untuk rasa kecewa ini. Bekerjasamalah denganku, jangan terlalu keras kepala. Aku sakit hati karena perlakuan mereka, tapi aku juga tak mau seperti ini. Ingin ku lepas rasa kecewa dan sakit hati ini dengan ikhlas, walopun tanpa ada ucap maaf mereka yang menyakitiku. Tapi kecewa ini terlalu berlebihan.Sakit hatinya kedarung banyak. Dan apa susahnya untuk mereka minta maaf padaku? Maka ku cabut sumpahku dan bahagialah mereka jika memang itu menjadi takdir mereka..” ku nasehati diri sendiri dengan banyak harap orang yang telah menyakitiku pun bisa merasakannya lalu minta maaf padaku.ku nasehati diri sendiri dengan banyak harap orang yang telah menyakitiku pun bisa merasakannya lalu minta maaf padaku.
“Selamat malam Malaikat..” dan ku tutup pertemuanku dengan langit malam bersamaan dengan langkah kakiku berjalan masuk ke dalam rumah.
————————————–
Dulu waktu aku kecil, aku pernah bertanya pada bundaku tersayang. “Bunda.. Malaikat itu ada ga sih? Apakah aku bisa bertemu dengannya? Bisa bermain dengannya juga?” Lalu bunda menatap ke dalam mataku sambil mengusap-usap keningku. Dengan nada lembutnya beliau berkata padaku.. “Coba lihat ke atas sana sayang..” mataku pun mengikuti arah telunjuk bundaku mengarah. Tepat di atas kepalaku, di langit luas itu.
“Kamu lihat bintang-bintang di atas sana itu sayang? Nah.. Malaikat tinggal di salah satu bintang itu. Tapi Malaikat gak bisa di temui, dia juga ga bisa di ajak bermain. Malaikat hanya bisa melihat kita dari atas sana dan ga pernah turun ke bumi..” lanjut bundaku berbicara.
“Satu lagi..” bisik ibu mengagetkanku ketika aku tengah memperhatikan bintang-bintang di atas kepalaku. “Suatu saat nanti.. di salah satu musim gugur, Malaikat itu akan turun dari langit dan akan memilih satu doa untuk di kabulkan……….” bunda terus berbicara sementara aku hanya menganggukan kepala tanda aku mengerti padahal dalam otak kecilku, aku terus berpikir tanpa jelas ke mana arah tujuan pertanyaanku. Apakah kelak Malaikat di atas sana pun akan mengabulkan satu doaku? Apakah Malaikat akan memilihku? Bagaimana aku bisa ke rumah Malaikat dan menemuinya? Ini itu, banyak pertanyaan tak terjawab. Entahlah. Semua berputar-putar di otak kecilku dan terabaikan begitu saja.
————————————–
“Selamat malam, Rusia..” tampak Malaikat bersayap putih dengan wajah bersinar keemasan berdiri tegak dengan senyum di bibirnya melihat Rusia dari luar rumahnya. Malaikat tak perlu mengintip. Dia bisa melihat Rusia yang tengah duduk di depan kaca sembari memandangi pecahan hatinya dengan jelas tanpa ada batas tembok dan pintu.
“Berhasil kamu memikat aku mampir ke rumahmu. Telah ku lihat pecahan hati warna birumu. Jadi, tak mungkin tak untukku sempurnakan satu doamu di musim gugur ini. Adalah kamu yang terpilih untukku, Rusia..” Malaikat pun tersenyum dengan gayanya duduk santai di atas udara. Terus memandangi tingkah konyol Rusia yang menurut dia adalah suatu hal yang lucu. Sampai Rusia tertidur dan sebelum bintang berhenti mengejar malam.
Akhirnya….
Doa terpilih di musim gugur itu memang ada. Dan Malaikat itu pun ada. Hanya saja Malaikat tak bisa kita temui. Sampai kapanpun..
-Ingat.. doa orang yang tersakiti dan anak yatim itu selalu terkabulkan. Begitu sakit hati itu terasa, maka sumpah sakit hatipun bisa saja terucap. Maka minta maaflah sebelum kecewa dan sakit hati berbalik padamu…-
♥, sitauLon

wow, amazing, words, feel, consistency.. salut!
dear nanankz.. ah kamu berlebihan

masih harus belajar untuk bisa seperti kamu mas
keep writing yaahh..