Gerakannya indah. Mengagumkan..
Hampir sempurna dengan perpaduan semua gerak tarian, musik orchestra serta aktingnya. Musik klasik itu melengking dan bergelombang. Para Balerina pun menyusuri lantai panggung memulai tariannya dengan berjinjit-jinjit seimbang dengan tangan terangkat ke atas. Perlahan mereka membuat barisan sembari mengembangkan kedua tangannya seperti busur, sesekali membentuk lingkaran elips di atas kepala, dan pada hitungan tertentu mereka berhenti di sebuah titik lalu berbisah kemudian bergabung kembali. Bergerak beriringan lalu mengulang gerakan yang sama dengan lompatan yang mampu membuat terpukau karena penonton melihat para Balerina itu seolah-olah terbang mendatar pada ketinggian tertentu. Lihat.. lihat.. mereka melompat tinggi ke udara, menghirup udara di atas sejenak dan secepat itu juga mereka terhentak kembali ke lantai panggung. Di angkat tubuhnya tinggi-tinggi dengan tumpuan satu kaki sementara kaki yang lain terangkat ke atas. Mereka berputar.. berputar.. berputar lagi. Selalu seperti itu. Tak di ragukan lagi, memang mereka Balerina langit yang mempesona.
Masih dengan gerakan-gerakan indahnya, satu per satu Balerina itu menjauh, menjauh dan kemudian hilang dari panggung berganti dengan kehadiran seorang sosok Balerina cantik memasuki panggung opera. Dia mengenakan kostum serba putih. Stocking putih, rok dan baju putih serta sepatu balet warna putih terbaiknya. Dia menari tanpa iringan musik sama sekali. Konon katanya, Belerina satu ini menari dengan irama hati. Dia satu-satunya Balerina yang tak mau di panggil Balerina seperti layaknya semua Balerina di sana. Dia menganggap dirinya hanyalah seorang Penari Balet biasa. Tak lebih. Yang menganggap menari adalah kebahagiaannya. Dan yang menganggap sebutan Penari Balet adalah nama yang masuk akal untuknya.
Kenalkan dia, Penari Balet. Saja.
Baginya, tak ada alasan juga untuknya di sebut sebagai Putri Esmeralda, putri idaman warga langit yang segala-galanya terlihat sangat sempurna dan jauh dari kesan sederhana. Anggap saja Putri Esmeralda adalah julukan dari Ratu Langit untuk seorang Balerina yang berhasil tampil di panggung konser Langit dan setelahnya mereka akan sering dikagumi oleh semua Pria di setiap penjuru Langit karena mendapatkan segala fasilitas kemewahan layaknya putri Langit. Satu hal yang wajib dilakukan oleh mereka adalah mengganti sepatu baletnya dengan highheels warna biru Langit di setiap harinya. Baru boleh mengganti highheels nya dengan sepatu balet bila Ratu Langit memintanya menari balet kembali. Seketika itu mereka akan menjadi sosok yang sangat mewah dan berbeda dari sebelumnya.
Entah Penari Balet ini bodoh, bego ato sok-sok an manis. Entahlah. Yang pasti, Penari Balet tak terlalu menyukai sebutan Putri Esmeralda. Menurutnya itu sama artinya dia harus merubah kepribadiannya yang sederhana dengan sosok yang baru menurut aturan main Langit. Sama juga artinya dia harus mengganti kebahagiaan sepatu baletnya untuk mendapatkan sanjung dan pujian dari orang lain. Tidak!! Sekalipun kalian tak akan pernah mendapati Penari Balet melepas sepatunya. Tak akan pernah.
Dia Penari Balet biasa. Yang semua orang melihat dia karena kehebatannya menari dan bukan karena kemewahan Langit. Tak heran bila semua warga Langit memandang remeh tiap kali melihat sepatu balet kusam itu selalu melekat di kaki Penari Balet. Karena memang itu yang Penari Baket miliki. Jadi biasakanlah melihat sepatu balet kusam itu.
Memang dialah dia. Penari Balet biasa itu.
Sekarang lihatlah itu. Di atas panggung sana dia terlihat begitu cantik. Rambutnya di iket sepenuhnya ke atas. Dengan sentuhan pita pink di rambutnya, yakin saja bahwa semua penonton akan terkesima melihat penampilannya di sana.
Sekarang lihatlah gerak tubuh tariannya. Bergerak bebas tak bisa di pastikan mau bergerak ke arah mana dan akan melakukan gerak tari seperti apa. Semuanya serba indah. Serba tak terduga. Dia memang tak di ragukan lagi kepiawaiannya dalam menari. Dalam hirungan menit, nyaris tak bisa di percaya ketika untuk beberapa saat dia terdiam di hadapan ribuan penonton dengan gerak tarian seperti memeluk seseorang sementara ekspresinya terus tersenyum. Dia terlihat cantik dan bahagia, hingga semua yang ada di ruangan tersebut ikut tersenyum melihatnya. Dan secepat itu juga dia meloncat tinggi, tinggi sekali lalu perlahan dia menjatuhkan dirinya ke lantai. Semua yang ada di ruangan tersebut berhasil di buatnya tercengang melihat gerakan-gerakan angsanya.
Dia memang menarik perhatian semua orang. Hingga akhirnya pakaian yang serba putih itu memberikan kesan sempurna untuk menutup pertunjukan opera balet yang bertajuk “Malam Kekasih” yang merupakan opera pertama yang dia bawakan. Dan berdirilah semua penonton yang serta merta tepuk tangan, siulan kagum serta ucap bahagia terdengar menggema di setiap sudut ruangan. Langit di malam itu menjadi semakin meriah dan bintang bersinar makin bersinar. Semua menyorot ke arah Penari Balet dengan balutan serba putihnya yang terlihat mencolok di antara deretan Balerina pengiringnya yang terbalut warna pink muda.
“Hebaaaattt…..” semua penonton di langit pun berdiri terpana sembari memberikan tepukan terhebat mereka sementara Penari Balet nyaris tak bisa tersenyum atopun berekspresi apapun ketika semua mata di hadapannya itu memandang kagum terhadapnya. Kini Penari Balet harus bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah mendapati kesuksesan malam konser pertamanya. Konser yang sengaja dia persembahkan untuk Kekasihnya.
“Luar biasa…..” tak henti-henti banyak kalimat puji dan sanjungan terdengar dari setiap ujung ruangan. Tapi bukan itu yang Penari Balet cari atopun ingin dia dengar. Sebentar!! Penari Balet pun melirik ke arah samping kiri panggung. Dia mencari Kekasih. Memang, di depan sana tampak Kekasih berdiri menatapnya. Tapi ada satu hal yang agak aneh. Kedua tangan Kekasih tetap terlipat rapat dalam dekapan di dada. Sama sekali tak ada tepukan kecil seperti yang di lakukan semua penonton untuk Penari Balet? Hanya senyuman kecil yang Kekasih berikan untuk Penari Balet. Dan pada akhirnya Penari Balet pun harus merasakan sedikit kecewa mendapati Kekasih tak terlihat bahagia dengan kesuksesan dirinya sebagai seorang Penari Balet di malam opera itu. Sekedar membuka kedua tangan dan memberikan tepukan kecil untuk Penari Balet saja rasanya susah sekali untuk dia dapatkan dari Kekasih.
Sedih.
———————————–
Hampir tiap hari Penari Balet tak pernah lepas dari menari dan sepatu baletnya. Seolah-olah dunia dia hanya sebatas dua hal tersebut. Menari dan sepatu balet. Dia selalu terlihat menarik di mata semua balerina karena sosok dirinya yang beda dari semuanya. Dia selalu menjadi hal yang tak wajar untuk tak di perbincangkan oleh mereka. Entah apapun itu, dia adalah seorang Penari Balet yang tak lebih namun beda.
Dulunya.. Penari Balet tinggal di salah satu bintang tak bernama, bintang semu yang tak bisa menyala. Dan jika sekarang dia berhasil menjadi seorang Penari Balet yang di kagumi warga langit seperti sekarang ini, itu sebenarnya berkat kehebatannya menari. Tak lebih. Bahkan menjadi Putri Esmeralda yang penuh dengan kemewahan langit, tak masuk dalam list impian dia. Hanya menjadi seorang Penari Balet lah yang ada di urutan pertama dalam deretan list impiannya setelah berjejeran dengan impiannya ingin membuat Kekasih bangga atas sosok dirinya sebagai seorang Penari Balet. Ya, itu menjadi dua hal yang paling penting untuknya, hanya saja dia tak pernah mengerti kenapa Kekasih seolah tak pernah bangga terhadapnya? Kenapa Kekasih selalu memandang Penari Balet seperti orang aneh? Apa Kekasih malu melihat Penari Balet menari di hadapan orang banyak seperti itu? Entahlah.
“Penari Balet hanya ingin menari bersama sepatu baletnya. Dia bukan wanita aneh. Hanya saja dia tak mau menjadi Putri Esmeralda dengan segala kemrwahannya seperti Balerina lainnya. Apa itu salah?”
Seing dia berkata sendiri.. “Apa yang harus aku lakukan untuk membuat Kekasih mau membuka kedua tangannya dan bertepuk tangan padaku?”
Tak jarang juga dia berpikir.. “Haruskah aku mengganti sepatu baletku ini dengan highheels seperti balerina-balerina lainnya agar aku bisa mendapatkan satu tepukan kecil dari Kekasih? Baru Kekasih bangga terhadapku..?”
Ato kadang dia ingin mengucapkan sesuatu kepada Kekasih tentang dirinya yang sebenarnya Kekasih pun tahu tentang hal itu.. “Hanya sepatu balet ini yang lebih tepat untuk seorang Penari Balet yang tinggal di Bintang tak bernama seperti aku ini..”
—————————–
Kekasih.
Seorang Pria hebat yang tinggal di salah satu Bintang terbesar di Galaksi. Seorang Pria yang kerap kali di perbincangkan oleh Balerina-Balerina di sana karena kehebatannya sebagai seorang Pangeran Langit yang bisa membuat setiap wanita bisa mencintainya namun tak satupun bisa mendapatkannya. Dan dia seorang Pria yang berhasil terpikat oleh senyum Penari Balet. Hingga Pria itu mengaku mencintai Penari Balet hingga saat ini.
Itu benar bila Kekasih mencintai Penari Balet. Tak di bantah lagi. Begitu pula Penari Balet.
Tapi malam itu, mereka duduk berdua di atas udara.. di Langit.
Entah karena larut dalam nuansa langit yang agak mendung ato hanya kebetulan saja, Penari Balet coba berbicara pada Kekasih. Di keluarkan semua yang dia rasakan, semua ketakutannya.. terlebih kenapa Penari Balet merasa Kekasih seolah tak pernah terlihat bangga terhadap dia?
“Semoga aku yang salah malam itu. Mungkin kedua mataku yang tak melihat tepukan kecil dari kamu. Ya.. meskipun aku selalu menunggu pelukan hangat dari kamu setelah itu hingga…” ucapnya terhenti sesaat untuk menarik nafas dengan bibir sedikit gemetar. “hingga saat ini, aku masih menunggu pelukan itu…” di lanjutkan kambali ucapnya sembari tangannya bergerak menarik gelas ke dalam dekapan kedua tangannya dengan harapan memberikan sedikit ketenangan atas debar jantungnya. Entah berhasil atau tidak, sepertinya gerakan tangannya cukup berhasil membebaskan ketegangan di dirinya.
“Kamu tak butuh tepukan dan pelukanku, Penari Balet..” Kekasih berbicara dengan nada pelan, suara yang berhasil membuat Penari Balet jatuh cinta pada Kekasih di awal jumpa mereka. Tapi bila seperti itu jawaban yang di berikan Kekasih, apa tak mungkin Penari Balet berpikir bahwa Kekasih tak mencintainya atau memang tak pernah mencintainya?
“Kadang tepukan dan pelukan itu lebih aku harapkan daripada kamu bilang aku hebat di atas panggung. Meskipun sampe saat ini, baik tepukan, pelukan atopun ucapan selamat itu tak pernah aku dapati..” kali ini Penari Balet tak bisa memendam emosinya. Tak di tahan pula air mata itu bergelayut di matanya, maka tumpahlah semuanya.
Di pegang kedua tangan Penari Balet, di tunggunya sampe Penari Balet itu berhenti menangis.
“Penari Balet memang cengeng tapi setahu aku Penari Balet tak pernah berhenti berharap..” seketika isak tangis Penari Balet berhenti di tempat dan kedua matanya menatap ke kedua mata Kekasih. Jelas terlihat di sana, bahwa Kekasih sangat mencintai Penari Balet, tapi kenapa Kekasih bersikap acuh tak acuh seperti itu. Seolah Penari Balet tak ada arti bagi Kekasih.
“Tapi harapan ini seperti ucapan dalam satu nafas. Semakin melelahkan bila kalimat yang terucap terlalu panjang, Kekasih..” ucap Penari Balet.
“Kalo begitu tariklah nafas sekuatmu sebelum kamu berucap..” Kekasih coba menawarkan solusi pada Penari Balet.
“Kenapa tak kamu coba persingkat saja kalimat untukku..”
“…….” tak ada jawaban apapun dari Kekasih. Dia hanya memandang penuh perasaan terhadap Penari Balet.
“Mungkin menjadi seorang Putri Esmeralda adalah pilihan terbaik untukku agar aku bisa mendapatkan tepukan tangan, pelukan serta kebanggaanmu terhadapku..” Penari Balet menunduk ke bawah sembari melihat sepatu balet yang selalu menempel di kakinya. Di otak dia, bila sepatu Balet itu di ganti dengan highheels seperti semua Putri Esmeralda, pasti Kekasih bangga terhadapnya.
“Aku akan memilih menjadi seseorang yang paling menjenuhkan, bila harus melihatmu seperti putri Esmeralda..” tertegun Penari Balet mendengar jawaban dari Kekasih yang setelah ucap itu, Kekasih pergi begitu saja meninggalkan Penari Balet sendirian. Tampak Kekasih marah pada ucapan Penari Balet, tapi Penari Balet pun juga tak tahu kenapa Kekasih melihat Penari Balet seperti orang aneh ketika menari di atas panggung.
“Apakah susah untukmu menerima aku yang hanya seorang Penari Balet biasa seperti ini? Hingga satu kalimat pujian pun tak pernah ku dengar..” lirih Penari Balet berbicara sementara matanya mengarah ke arah perginya Kekasih. Jauh ke depan sana. Tak tahu ke mana.
Di rasa tak ada yang mengerti dirinya, Penari Balet pun menangis hebat. Langit masih menampakkan kedinginannya. Awan mule berkabut, sementara tak ada tanda hujan yang akan turun. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat membakar perasaannya. Di buka jaket bulu ungunya dan dia pun menari-nari di atas udara. Seperti layaknya panggung besar dan dia menjadi artisnya. Dia pun menari-nari dengan gerakan kesayangannya, gerakan Piroutte yang indah seperti angsa. Untuknya, menari Piroutte adalah luapan emosinya. Dan di situ dia bisa mendapatkan bahagia dan menghilangkan sedihnya.
Di angkat tubuhnya ke udara dengan jinjitan dua kaki, sementara ke dua tangannya melingkar di atas kepadanya. Di putar tubuhnya dengan satu kaki, berputar berulang-ulang, hingga rasanya tak bisa di ikuti ke arah mana dia kan berputar. Air mata Penari balet terus berlinang. Dia dalam kondisi tak baik. Dia sedih, sakit hati dan kesepian. Dia menari untuk mengatakan pada Kekasih betapa dia sangat mencintainya, mencintai balet beserta sepatu Baletnya. Tanpa harus merubah dirinya seperti seorang putri Esmeralda.
Penari Balet itu terus berputar, berputar. Dia melompat tinggi, tinggi, lebih tinggi lagi.. di liuk-liukkan tubuhnya dengan beberapa irama hatinya. Terus dia seperti itu, hingga dia mule merasakan kelelahan. Perlahan dia hentikan gerakan-gerakannya. Sembari samar-samar dia melihat ada ada seseorang memperhatikan tariannya dari kejauhan.
“Itu Kekasih..” ucapnya sambil memicingkan mata, mencoba memastikan bahwa apa yang dia lihat memang Kekasih.
“Iya, itu Kekasih..” dengan sigap dia berlari secepat angin mendekati lelaki itu. Tiba-tiba terhentilah dia di situ. Tak ada siapapun di sana, hanya halusinasi Penari Balet saja yang bermain. Kecewalah dia kembali. Tapi dia kecewa pada diri sendiri, kenapa tadi dia tak menahan Kekasih untuk terus menemaninya. Menemani malamnya, menemani hari-harinya esok hari. Sampai hari besar konser tunggal nya berlangsung. 7 hari lagi. Kalo sudah begini bagaimana cara Penari Balet memberi tahukan kepada Kekasih untuk hadir di konsernya? Entahlah. Tak ada harapan lagi. Kemungkinan terburuk bearti Kekasih tak mungkin hadir melihat dirinya menari. Konser tunggal yang memang dia persembahkan untuk Kekasih. Konser permintaan warga langit yang begitu kagum atas tarian angsanya.
———————————–
Malam Konser telah tiba.
Panggung sudah siap, lampu sorot di mana-mana. Malam konser istimewa dengan tarian yang memadukan langkah, gerakan, musik, kostum dan tata rias serta set panggung untuk bercerita telah di persiapkan. Ribuan penonton sudah duduk di kursi masing-masing. Warna putih mendominasi panggung konser. Dalam benak Penari Balet, tak boleh ada yang pergi meninggalkan kursi sebelum konser ini slese. Penari Balet akan mempersembahkan tarian yang orang lain tak akan pernah lupa. Tarian untuk seharusnya dia persembahkan untuk kehadiran Kekasih yang dia tahu tak akan datang malam ini.
Detik terus berjalan. Tepuk riuh penonton yang menyambut kehadiran Penari Balet di atas panggung menutupi alunan musik yang mengiringi langkahnya ketika memasuki panggung. Begitu hebat kah tarian Penari Balet hingga tak ada satupun mata yang tertutup melihat pertunjukannya. Semua mata begitu licin hingga setiap lompatan sekecil apapun yang di lakukan Penari Balet pun mereka melihatnya dengan jelas. Ya, tak di ragukan lagi. Penari Balet memang hebat. Mampu menghipnotis ribuan penonton dengan aksi panggungnya.
Semua terlihat sangat sempurna. Hingga pada puncak acara.
Musik pengiring yang awalnya terdengar begitu menghentak dan ceria tiba-tiba di akhir acara mule terdengar begitu miris dan sedih. Di rangkai dengan tarian serta acting Penari Balet yang begitu menyatu, membuat semua penonton ikut terharu dan terhenyak. Saatnya Penari Balet menghadirkan gerakan Piroutte kesayangan dia beserta segenap penonton Langit. Gerakan angsa yang seolah mengatakan bahwa dia sangat mencintai Kekasihnya lebih dari apapun. Bahkan termasuk bila dia harus merubah dirinya menjadi orang lain seperti keinginan Kekasih asalkan Kekasih bisa memberikan satu tepukan kecil dan memeluknya. Tapi di cerita malam itu, Penari lebih memilih menjadi diri sendiri daripada harus menjadi sosok orang lain. Dia lebih memilih Sepatu Balet kusamnya daripada highheels putri Esmeralda.
Sima ekspresi semua orang di ruangan itu. Semua penonton di sana benar-benar ikut larut dalam perasaan Penari Balet. Seakan mereka tahu apa yang di rasakan Penari Balet, hingga mereka pun ikut meneteskan airmata ketika terlihat di atas panggung sana ada tetes air mata jatuh ke lantai. Dia berputar ke sana sini, seolah-olah mencari sesuatu dan pada akhirnya dia merasakan ketakutan berlebihan. Ketakutan dia tak bisa melihat Kekasih lagi. Terjatuhlah dia di lantai panggung untuk mengakhiri tariannya. Pada saat itu juga semua orang yang ada di sana bertepuk tangan meriah untuk Penari Balet, termasuk Ratu Langit dan semua Balerina-Balerina.
Nyaris tertutup kedua mata Penari Balet, ketika tepat di depan sana dia mendapati sosok Kekasih berdiri menatapnya dengan tersenyum, bertepuk tangan padanya, dan membuat gerakan balet kecil coba memperagakan gerakan yang seringkali Penari Balet itu lakukan. Penari Balet menyebut gerakan itu ‘In Heart’ yang bearti aku bangga padamu. Tersenyumlah Penari Balet melihat itu semua. Akhirnya apa yang ingin dia sampaikan bisa terlihat oleh Kekasih. Betapa dia mencintai Sepatu Baletnya dan Kekasihnya.
Di saat yang hampir bersamaan juga, tiba-tiba merapatlah kedua mata Penari Balet. Tak terbuka lagi. Sekuat apapun Kekasih coba membangunkan Penari Balet, tak akan bisa. Karena Penari Balet telah hilang. Selamanya. Seperti tajuk konser dia malam itu “SAMPAI MATI”

-Menjadi diri sendiri tak lagi menjadi hal yang aneh untukku. Apapun alasannya tak lagi bisa ku terima, termasuk perasaanku sendiri. Sepatu balet selalu ada di kaki Penari Balet. Sampai nanti..”
♥, sitauLon
Posted in nOtes
twitter..