marah

•March 10, 2011 • Leave a Comment

Saya butuh rasa, namun tak ada. Saya butuh ketenangan, namun seperti mati iman. Saya butuh genggaman, namun lepas semua. Saya butuh senyuman, namun bibir diam semua. Saya butuh pelukan, namun menepi kedua tangan. Saya butuh semangat, namun menjauh semua kata-kata kiasan. Saya butuh pengertian, namun tak ada yang tahu.

Saya ingin mengeluh. Saya ingin menangis. Saya ingin teriak. Saya ingin lari. Saya ingin MARAH!!

Padaku. Saja.

Iromejan, malam terakhir dikamar kostku
10 maret 2011

-I say: “Nobody really loves me,,” God says: “I love you,,”-

parodi

•March 7, 2011 • Leave a Comment

Bolehlah. Kamu mencubitku, memasukkan sendokmu ke dalam piringku, membenci lalu melupakanku sehari, membentakku hingga melotot kedua matamu, menutup telponku ketika marah padaku bahkan cemburu pada satu temenku karena kamu merasa memilikiku. Dari itu, maka berkembanglah kita. Aku sengaja tak melupakan namun tak bisa tak mengingatnya. Kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu, kamu, kamu, juga kamu. Kamu semuanya. Kita memang bukan sepasang, kita hanya berteman. Lebih. Katamu kita terlalu bersemangat. Kataku kita adalah Parodi. Kalo kata orang lain kita adalah sahabat. Aku dengan banyak sahabat.

Bahkan kamu tahu aku tak mampu menjadi manusia semampunya. Hanya bisa begini saja. Begini pun sudah lebih, menyenangkan bagiku. Tapi kamu, ato kamu, kamu, mungkin kamu, tetap menemani kenyataanku. Tetap menemani hariku memecah pasir menjadi debu. Tetap menemaniku mengambil bintang-bintang di langit dan menyimpannya di keranjangku. Dan slalu membantuku menjumlahkan bilangan ganjil menjadi genap. Teriakmu bilang bahwa kalian smua slalu ada di kursi masing-masing bersiap menemani kursiku. Ouh, kadang aku menangisi hawaku, apakah aku sebegitu di cintainya? Hingga di otak konyolku ingin memberi kamu, kamu, kamu ato kamu, kamu, rangking Parodi sahabat ato bahkan mungkin piagam penghargaan. Ukiran hati.

Kamu bilang ikut bahagia. Kamu bilang sedih merasa kehilanganku. Kamu bilang cemburu sama pasanganku. Dan kamu bilang dengan semangat akan menemuiku, di manapun kamu berapa. Dan kamu yang sana bilang kalo kamu sedih tak bisa datang menemuiku. Kamu bilang kamu sudah siapkan surprise kedatanganmu untukku. Belum lagi kamu, kamu, kamu ato kamu, kamu dan kamu. Aaahh, kamu, kamu, kamu, kamu, semuanya. Kalian semua. Banyak sekali kalian, Parodi.

Kalian bisa saja datang dan pergi. Menjauh lalu mendekat kembali. Ya ya ya, dari awal aku bisa menemuimu, mengenalmu hingga mendapatkanmu. Bahagiaku cukup. Dan bila tiba hariku, aku ingin menjumpai kamu, kamu, kamu ato kamu, kamu dan kamu semuanya di waktuku. Harus memelukku, dengan pundak melekat di dadaku. Semua tersenyum ya. Itulah mauku, bagaimana tidak?

Kalian semuanya, aku cinta padamu.

Iromejan, 7 maret 2011
-Tanggalku semakin dekat, shabat terbaik pun semakin dekat denganku. Mereka tak lagi bahagia untukku, tapi bahagia bersamaku :)

Tuhan, aku ingin menikah

•February 2, 2011 • Leave a Comment

Tuhan, aku ingin menikah,,

Menikah dengan satu pria kesayangan-Mu. Pria yang bilang rindu padaku ketika dia sujud pada-Mu. Yang mencintaiku seolah memang hanya aku satunya wanita yang menyala di antara semua wanita. Yang enggan menolak bertemu denganku seperti halnya dia enggan menolak pintu surga-Mu. Yang selalu mencemaskanku ketika dia tahu dia menyakitiku. Yang selalu membahagiakanku seolah ada ketakutan besok dia kan kehilanganku. Yang tak pernah membuatku sedih bahkan ketika bahagia yang ku harapkan tak kunjung datang. Yang selalu mengingatku seperti halnya dia tak pernah melupakan-Mu. Dan dia pria yang selalu perhatian padaku sama seperti ketika kedua telapak tangannya mengusap lembut wajahnya.

Tuhan, aku ingin menikah. Dan aku mau pria itu.

Hey you, aku mau kamu!!

2 feb 2011,
*sayang sekali sama pria itu,,

15.01.2011

•January 18, 2011 • Leave a Comment

ari ini..

Tuhan menjawab doa saya begitu cepat. Saya minta biasa saja, Tuhan kasih luar biasa. Tak sangka seperti ini. Betapa Tuhan sangat menyayangi saya :)

Dan Dia, orang yang saya suka. Saya minta satu pelukan, dia kasih dua pelukan. Saya minta satu senyuman, dia kasih semua senyuman. Dia pun beri lebih untuk saya. Dia tahu apa yang saya harapkan, tahu apa yang saya butuhkan sekaligus dia tahu klo saya sedang menginginkan sesuatu yang tak biasa namun tak kunjung menghampiri saya. Dan sekarang dia memberikannya. Dia berhasil :) semuanya untuk saya..

Terimakasih, saya menyukainya. Teramat, lebih dari batas bisa saya merasa.

Sabtu, 15 januari 2011. Malammu kado terindah untuk saya.

* Amien untuk semua doa bahagia hari ini.. HAPPY BIRTHDAY TO ME :)

satu pelukan,,

•January 14, 2011 • Leave a Comment

:(

Dari seorang sahabat saya meminta pelukannya. Saya meminta satu pelukan, dia memberikan dua pelukan. Bahkan lebih dari yang saya minta. Dia tahu apa yang saya harapkan, tahu apa yang saya inginkan sekaligus dia tahu klo saya sedang menginginkan sesuatu yang tak biasa namun tak kunjung menghampiri saya. Betapa sahabat saya, sangat menyayangi saya :)

Bila yang saya harapkan tak memilih saya. Tak usah meratap, kata sahabat saya. Satu harapan yang sedari tadi menunggu telah terlantar, jadi tak ada lagi harapan yang saya tunggu. Saatnya saya dan kehendak Tuhan yang akan bekerja penuh membahagiakan diri saya sendiri :)

Ucap bismilah dan syukur hamdalah di hari pergantian umur saya. Berlimpah doa dari smua sahabat di hari ini, akan saya kumpulkan untuk kebahagiaan di umur baru saya. Amien :)

**15.01.2011,, heppy bdey to me :* Terimasih Ya Allah untuk semuanya. One bighug, pliss,,

wanita bodoh

•November 30, 2010 • Leave a Comment

Bila ada kesempatan untukku,, aku akan memilih menjadi aku yang seperti sekarang ini. Tak cantik, tak pintar dan tak punya uang.

Bahkan bila kesempatan itu masih menungguku,, ak tak akan menyia-nyiakan waktuku hanya utk menyakiti orang yang aku suka. Ak akan terus berusaha membahagiakan dirinya dan membuatnya terus tersenyum meskipun aku hanya bisa membuat tulisan konyol dan gambar norak sebagai kado ulangtahunnya. Tak ada yang lain, aku hanya ingin membuatnya tersenyum.

Ketahuilah,, aku yang bodoh dan ceroboh selamanya akan tetap memalukan untuknya. Sampe kapanpun. Bahkan aku akan meminta pada kesempatan itu, untuk tetap memberiku pilihan menjadi aku seperti sekarang ini, wanita yang punya suara jelek dan hanya tahu bagaimana cara mencuci baju yang kelunturan :)

Aku.. Selamanya tak akan pernah punya jari lentik dan kulit halus. Tapi hebatku, aku tak akan pernah bosan mengajarinya tersenyum dan memintanya tersenyum. Dia tak akan pernah tahu bagaimana bahagiaku ketika dia menemani aku makan es krim, walo kadang dinner romantis yang aku harapkan darinya. Dia juga ga akan pernah tahu bagaimana bahagiaku ketika aku tersenyum membaca pesan darinya untukku, walo kadang surprice yang aku harapkan dari dia. Satu pesan aku bacanya bisa sampe 10 kali. Ya, berkali-kali. Dan diia tak akan pernah tahu itu semua. Karena buat dia, itu semua hanya konyol.

Aku tak akan berani bepikir lagi, berharap orang yang aku suka kan memujiku sebaik apapun aku berdandan. Kurasa ejekan dan sikap cueknya lebih aku rindukan meski pehatiannya yang sering aku harapkan. Ak mau melakukan itu semua. Betapa dia begitu berarti untukku.

Aku tak akan pernah menangisi semuanya, karena sampe detik ini aku telah berhasil buktikan bahwa aku telah melakukan hal terbaik yang aku bisa berikan untuk orang yang aku suka.

Berharap kesempatan selalu ada untuk aku bisa selalu mencintainya. Meski aku tak pernah di harapkannya. Aku, wanita bodoh ini,,

30 nov 2010
-semoga aku tak hilang rasa pada orang yang aku suka-

Penari Balet

•July 30, 2010 • 6 Comments

Gerakannya indah. Mengagumkan..

Hampir sempurna dengan perpaduan semua gerak tarian, musik orchestra serta aktingnya. Musik klasik itu melengking dan bergelombang. Para Balerina pun menyusuri lantai panggung memulai tariannya dengan berjinjit-jinjit seimbang dengan tangan terangkat ke atas. Perlahan mereka membuat barisan sembari mengembangkan kedua tangannya seperti busur, sesekali membentuk lingkaran elips di atas kepala, dan pada hitungan tertentu mereka berhenti di sebuah titik lalu berbisah kemudian bergabung kembali. Bergerak beriringan lalu mengulang gerakan yang sama dengan lompatan yang mampu membuat terpukau  karena penonton melihat para Balerina itu seolah-olah terbang mendatar pada ketinggian tertentu. Lihat.. lihat.. mereka melompat tinggi ke udara, menghirup udara di atas sejenak dan secepat itu juga mereka terhentak kembali ke lantai panggung. Di angkat tubuhnya tinggi-tinggi dengan tumpuan satu kaki sementara kaki yang lain terangkat ke atas. Mereka berputar.. berputar.. berputar lagi. Selalu seperti itu. Tak di ragukan lagi, memang mereka Balerina langit yang mempesona.

Masih dengan gerakan-gerakan indahnya, satu per satu Balerina itu menjauh, menjauh dan kemudian hilang dari panggung berganti dengan kehadiran seorang sosok Balerina cantik memasuki panggung opera. Dia mengenakan kostum serba putih. Stocking putih, rok dan baju putih serta sepatu balet warna putih terbaiknya. Dia menari tanpa iringan musik sama sekali. Konon katanya, Belerina satu ini menari dengan irama hati. Dia satu-satunya Balerina yang tak mau di panggil Balerina seperti layaknya semua Balerina di sana. Dia menganggap dirinya hanyalah seorang Penari Balet biasa. Tak lebih. Yang menganggap menari adalah kebahagiaannya. Dan yang menganggap sebutan Penari Balet adalah nama yang masuk akal untuknya.

Kenalkan dia, Penari Balet. Saja.

Baginya, tak ada alasan juga untuknya di sebut sebagai Putri Esmeralda, putri idaman warga langit yang segala-galanya terlihat sangat sempurna dan jauh dari kesan sederhana. Anggap saja Putri Esmeralda adalah julukan dari Ratu Langit untuk seorang Balerina yang berhasil tampil di panggung konser Langit dan setelahnya mereka akan sering dikagumi oleh semua Pria di setiap penjuru Langit karena mendapatkan segala fasilitas kemewahan layaknya putri Langit. Satu hal yang wajib dilakukan oleh mereka adalah mengganti sepatu baletnya dengan highheels warna biru Langit di setiap harinya. Baru boleh mengganti highheels nya dengan sepatu balet bila Ratu Langit memintanya menari balet kembali. Seketika itu mereka akan menjadi sosok yang sangat mewah dan berbeda dari sebelumnya.

Entah Penari Balet ini bodoh, bego ato sok-sok an manis. Entahlah. Yang pasti, Penari Balet tak terlalu menyukai sebutan Putri Esmeralda. Menurutnya itu sama artinya dia harus merubah kepribadiannya yang sederhana dengan sosok yang baru menurut aturan main Langit. Sama juga artinya dia harus mengganti kebahagiaan sepatu baletnya untuk mendapatkan sanjung dan pujian dari orang lain. Tidak!! Sekalipun kalian tak akan pernah mendapati Penari Balet melepas sepatunya. Tak akan pernah.

Dia Penari Balet biasa. Yang semua orang melihat dia karena kehebatannya menari dan bukan karena kemewahan Langit. Tak heran bila semua warga Langit memandang remeh tiap kali melihat sepatu balet kusam itu selalu melekat di kaki Penari Balet. Karena memang itu yang Penari Baket miliki. Jadi biasakanlah melihat sepatu balet kusam itu.

Memang dialah dia. Penari Balet biasa itu.

Sekarang lihatlah itu. Di atas panggung sana dia terlihat begitu cantik. Rambutnya di iket sepenuhnya ke atas. Dengan sentuhan pita pink di rambutnya, yakin saja bahwa semua penonton akan terkesima melihat penampilannya di sana.

Sekarang lihatlah gerak tubuh tariannya. Bergerak bebas tak bisa di pastikan mau bergerak ke arah mana dan akan melakukan gerak tari seperti apa. Semuanya serba indah. Serba tak terduga. Dia memang tak di ragukan lagi kepiawaiannya dalam menari. Dalam hirungan menit, nyaris tak bisa di percaya ketika untuk beberapa saat dia terdiam di hadapan ribuan penonton dengan gerak tarian seperti memeluk seseorang sementara ekspresinya terus tersenyum. Dia terlihat cantik dan bahagia, hingga semua yang ada di ruangan tersebut ikut tersenyum melihatnya. Dan secepat itu juga dia meloncat tinggi, tinggi sekali lalu perlahan dia menjatuhkan dirinya ke lantai. Semua yang ada di ruangan tersebut berhasil di buatnya tercengang melihat gerakan-gerakan angsanya.

Dia memang menarik perhatian semua orang. Hingga akhirnya pakaian yang serba putih itu memberikan kesan sempurna untuk menutup pertunjukan opera balet yang bertajuk “Malam Kekasih” yang merupakan opera pertama yang dia bawakan. Dan berdirilah semua penonton yang serta merta tepuk tangan, siulan kagum serta ucap bahagia terdengar menggema di setiap sudut ruangan. Langit di malam itu menjadi semakin meriah dan bintang bersinar makin bersinar. Semua menyorot ke arah Penari Balet dengan balutan serba putihnya yang terlihat mencolok di antara deretan Balerina pengiringnya yang terbalut warna pink muda.

“Hebaaaattt…..” semua penonton di langit pun berdiri terpana sembari memberikan tepukan terhebat mereka sementara Penari Balet nyaris tak bisa tersenyum atopun berekspresi apapun ketika semua mata di hadapannya itu memandang kagum terhadapnya. Kini Penari Balet harus bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah mendapati kesuksesan malam konser pertamanya. Konser yang sengaja dia persembahkan untuk Kekasihnya.

“Luar biasa…..” tak henti-henti banyak kalimat puji dan sanjungan terdengar dari setiap ujung ruangan. Tapi bukan itu yang Penari Balet cari atopun ingin dia dengar. Sebentar!! Penari Balet pun melirik ke arah samping kiri panggung. Dia mencari Kekasih. Memang, di depan sana tampak Kekasih berdiri menatapnya. Tapi ada satu hal yang agak aneh. Kedua tangan Kekasih tetap terlipat rapat dalam dekapan di dada. Sama sekali tak ada tepukan kecil seperti yang di lakukan semua penonton untuk Penari Balet? Hanya senyuman kecil yang Kekasih berikan untuk Penari Balet. Dan pada akhirnya Penari Balet pun harus merasakan sedikit kecewa mendapati Kekasih tak terlihat bahagia dengan kesuksesan dirinya sebagai seorang Penari Balet di malam opera itu. Sekedar membuka kedua tangan dan memberikan tepukan kecil untuk Penari Balet saja rasanya susah sekali untuk dia dapatkan dari Kekasih.

Sedih.

———————————–

Hampir tiap hari Penari Balet tak pernah lepas dari menari dan sepatu baletnya. Seolah-olah dunia dia hanya sebatas dua hal tersebut. Menari dan sepatu balet. Dia selalu terlihat menarik di mata semua balerina karena sosok dirinya yang beda dari semuanya. Dia selalu menjadi hal yang tak wajar untuk tak di perbincangkan oleh mereka. Entah apapun itu, dia adalah seorang Penari Balet yang tak lebih namun beda.

Dulunya.. Penari Balet tinggal di salah satu bintang tak bernama, bintang semu yang tak bisa menyala. Dan jika sekarang dia berhasil menjadi seorang Penari Balet yang di kagumi warga langit seperti sekarang ini, itu sebenarnya berkat kehebatannya menari. Tak lebih. Bahkan menjadi  Putri Esmeralda yang penuh dengan kemewahan langit, tak masuk dalam list impian dia. Hanya menjadi seorang Penari Balet lah yang ada di urutan pertama dalam deretan list impiannya setelah berjejeran dengan impiannya ingin membuat Kekasih bangga atas sosok dirinya sebagai seorang Penari Balet. Ya, itu menjadi dua hal yang paling penting untuknya, hanya saja dia tak pernah mengerti kenapa Kekasih seolah tak pernah bangga terhadapnya? Kenapa Kekasih selalu memandang Penari Balet seperti orang aneh? Apa Kekasih malu melihat Penari Balet menari di hadapan orang banyak seperti itu? Entahlah.

“Penari Balet hanya ingin menari bersama sepatu baletnya. Dia bukan wanita aneh. Hanya saja dia tak mau menjadi Putri Esmeralda dengan segala kemrwahannya seperti Balerina lainnya. Apa itu salah?”

Seing dia berkata sendiri.. “Apa yang harus aku lakukan untuk membuat Kekasih mau membuka kedua tangannya dan bertepuk tangan padaku?”

Tak jarang juga dia berpikir.. “Haruskah aku mengganti sepatu baletku ini dengan highheels seperti balerina-balerina lainnya agar aku bisa mendapatkan satu tepukan kecil dari Kekasih? Baru Kekasih bangga terhadapku..?”

Ato kadang dia ingin mengucapkan sesuatu kepada Kekasih tentang dirinya yang sebenarnya Kekasih pun tahu tentang hal itu.. “Hanya sepatu balet ini yang lebih tepat untuk seorang Penari Balet yang tinggal di Bintang tak bernama seperti aku ini..”

—————————–

Kekasih.

Seorang Pria hebat yang tinggal di salah satu Bintang terbesar di Galaksi. Seorang Pria yang kerap kali di perbincangkan oleh Balerina-Balerina di sana karena kehebatannya sebagai seorang Pangeran Langit yang bisa membuat setiap wanita bisa mencintainya namun tak satupun bisa mendapatkannya. Dan dia seorang Pria yang berhasil terpikat oleh senyum Penari Balet. Hingga Pria itu mengaku mencintai Penari Balet hingga saat ini.

Itu benar bila Kekasih mencintai Penari Balet. Tak di bantah lagi. Begitu pula Penari Balet.

Tapi malam itu, mereka duduk berdua di atas udara.. di Langit.

Entah karena larut dalam nuansa langit yang agak mendung ato hanya kebetulan saja, Penari Balet coba berbicara pada Kekasih. Di keluarkan semua yang dia rasakan, semua ketakutannya.. terlebih kenapa Penari Balet merasa Kekasih seolah tak pernah terlihat bangga terhadap dia?

Semoga aku yang salah malam itu. Mungkin kedua mataku yang tak melihat tepukan kecil dari kamu. Ya.. meskipun aku selalu menunggu pelukan hangat dari kamu setelah itu hingga…” ucapnya terhenti sesaat untuk menarik nafas dengan bibir sedikit gemetar. “hingga saat ini, aku masih menunggu pelukan itu…” di lanjutkan kambali ucapnya sembari tangannya bergerak menarik gelas ke dalam dekapan kedua tangannya dengan harapan memberikan sedikit ketenangan atas debar jantungnya. Entah berhasil atau tidak, sepertinya gerakan tangannya cukup berhasil membebaskan ketegangan di dirinya.

Kamu tak butuh tepukan dan pelukanku, Penari Balet..” Kekasih berbicara dengan nada pelan, suara yang berhasil membuat Penari Balet jatuh cinta pada Kekasih di awal jumpa mereka. Tapi bila seperti itu jawaban yang di berikan Kekasih, apa tak mungkin Penari Balet berpikir bahwa Kekasih tak mencintainya atau memang tak pernah mencintainya?

“Kadang tepukan dan pelukan itu lebih aku harapkan daripada kamu bilang aku hebat di atas panggung. Meskipun sampe saat ini, baik tepukan, pelukan atopun ucapan selamat itu tak pernah aku dapati..” kali ini Penari Balet tak bisa memendam emosinya. Tak di tahan pula air mata itu bergelayut di matanya, maka tumpahlah semuanya.

Di pegang kedua tangan Penari Balet, di tunggunya sampe Penari Balet itu berhenti menangis.

“Penari Balet memang cengeng tapi setahu aku Penari Balet tak pernah berhenti berharap..” seketika isak tangis Penari Balet berhenti di tempat dan kedua matanya menatap ke kedua mata Kekasih. Jelas terlihat di sana, bahwa Kekasih sangat mencintai Penari Balet, tapi kenapa Kekasih bersikap acuh tak acuh seperti itu. Seolah Penari Balet tak ada arti bagi Kekasih.

“Tapi harapan ini seperti ucapan dalam satu nafas. Semakin melelahkan bila kalimat yang terucap terlalu panjang, Kekasih..” ucap Penari Balet.

“Kalo begitu tariklah nafas sekuatmu sebelum kamu berucap..” Kekasih coba menawarkan solusi pada Penari Balet.

“Kenapa tak kamu coba persingkat saja kalimat untukku..”

“…….” tak ada jawaban apapun dari Kekasih. Dia hanya memandang penuh perasaan terhadap Penari Balet.

“Mungkin menjadi seorang Putri Esmeralda adalah pilihan terbaik untukku agar aku bisa mendapatkan tepukan tangan, pelukan serta kebanggaanmu terhadapku..” Penari Balet menunduk ke bawah sembari melihat sepatu balet yang selalu menempel di kakinya. Di otak dia, bila sepatu Balet itu di ganti dengan highheels seperti semua Putri Esmeralda, pasti Kekasih bangga terhadapnya.

“Aku akan memilih menjadi seseorang yang paling menjenuhkan, bila harus melihatmu seperti putri Esmeralda..” tertegun Penari Balet mendengar jawaban dari Kekasih yang setelah ucap itu, Kekasih pergi begitu saja meninggalkan Penari Balet sendirian. Tampak Kekasih marah pada ucapan Penari Balet, tapi Penari Balet pun juga tak tahu kenapa Kekasih melihat Penari Balet seperti orang aneh ketika menari di atas panggung.

“Apakah susah untukmu menerima aku yang hanya seorang Penari Balet biasa seperti ini? Hingga satu kalimat pujian pun tak pernah ku dengar..” lirih Penari Balet berbicara sementara matanya mengarah ke arah perginya Kekasih. Jauh ke depan sana. Tak tahu ke mana.

Di rasa tak ada yang mengerti dirinya, Penari Balet pun menangis hebat. Langit masih menampakkan kedinginannya. Awan mule berkabut, sementara tak ada tanda hujan yang akan turun. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat membakar perasaannya. Di buka jaket bulu ungunya dan dia pun menari-nari di atas udara. Seperti layaknya panggung besar dan dia menjadi artisnya. Dia pun menari-nari dengan gerakan kesayangannya, gerakan Piroutte yang indah seperti angsa. Untuknya, menari Piroutte adalah luapan emosinya. Dan di situ dia bisa mendapatkan bahagia dan menghilangkan sedihnya.

Di angkat tubuhnya ke udara dengan jinjitan dua kaki, sementara ke dua tangannya melingkar di atas kepadanya. Di putar tubuhnya dengan satu kaki, berputar berulang-ulang, hingga rasanya tak bisa di ikuti ke arah mana dia kan berputar. Air mata Penari balet terus berlinang. Dia dalam kondisi tak baik. Dia sedih, sakit hati dan kesepian. Dia menari untuk mengatakan pada Kekasih betapa dia sangat mencintainya, mencintai balet beserta sepatu Baletnya. Tanpa harus merubah dirinya seperti seorang putri Esmeralda.

Penari Balet itu terus berputar, berputar. Dia melompat tinggi, tinggi, lebih tinggi lagi.. di liuk-liukkan tubuhnya dengan beberapa irama hatinya. Terus dia seperti itu, hingga dia mule merasakan kelelahan. Perlahan dia hentikan gerakan-gerakannya. Sembari samar-samar dia melihat ada ada seseorang memperhatikan tariannya dari kejauhan.

“Itu Kekasih..” ucapnya sambil memicingkan mata, mencoba memastikan bahwa apa yang dia lihat memang Kekasih.

“Iya, itu Kekasih..” dengan sigap dia berlari secepat angin mendekati lelaki itu. Tiba-tiba terhentilah dia di situ. Tak ada siapapun di sana, hanya halusinasi Penari Balet saja yang bermain. Kecewalah dia kembali. Tapi dia kecewa pada diri sendiri, kenapa tadi dia tak menahan Kekasih untuk terus menemaninya. Menemani malamnya, menemani hari-harinya esok hari. Sampai hari besar konser tunggal nya berlangsung. 7 hari lagi. Kalo sudah begini bagaimana cara Penari Balet memberi tahukan kepada Kekasih untuk hadir di konsernya? Entahlah. Tak ada harapan lagi. Kemungkinan terburuk bearti Kekasih tak mungkin hadir melihat dirinya menari. Konser tunggal yang memang dia persembahkan untuk Kekasih. Konser permintaan warga langit yang begitu kagum atas tarian angsanya.

———————————–

Malam Konser telah tiba.

Panggung sudah siap, lampu sorot di mana-mana. Malam konser istimewa dengan tarian yang memadukan langkah, gerakan, musik, kostum dan tata rias serta set panggung untuk bercerita telah di persiapkan. Ribuan penonton sudah duduk di kursi masing-masing. Warna putih mendominasi panggung konser. Dalam benak Penari Balet, tak boleh ada yang pergi meninggalkan kursi sebelum konser ini slese. Penari Balet akan mempersembahkan tarian yang orang lain tak akan pernah lupa. Tarian untuk seharusnya dia persembahkan untuk kehadiran Kekasih yang dia tahu tak akan datang malam ini.

Detik terus berjalan. Tepuk riuh penonton yang menyambut kehadiran Penari Balet di atas panggung  menutupi alunan musik yang mengiringi langkahnya ketika memasuki panggung. Begitu hebat kah tarian Penari Balet hingga tak ada satupun mata yang tertutup melihat pertunjukannya. Semua mata begitu licin hingga setiap lompatan sekecil apapun yang di lakukan Penari Balet pun mereka melihatnya dengan jelas. Ya, tak di ragukan lagi. Penari Balet memang hebat. Mampu menghipnotis ribuan penonton dengan aksi panggungnya.

Semua terlihat sangat sempurna. Hingga pada puncak acara.

Musik pengiring yang awalnya terdengar begitu menghentak dan ceria tiba-tiba di akhir acara mule terdengar begitu miris dan sedih. Di rangkai dengan tarian serta acting Penari Balet yang begitu menyatu, membuat semua penonton ikut terharu dan terhenyak. Saatnya Penari Balet menghadirkan gerakan Piroutte kesayangan dia beserta segenap penonton Langit. Gerakan angsa yang seolah mengatakan bahwa dia sangat mencintai Kekasihnya lebih dari apapun. Bahkan termasuk bila dia harus merubah dirinya menjadi orang lain seperti keinginan Kekasih asalkan Kekasih bisa memberikan satu tepukan kecil dan memeluknya. Tapi di cerita malam itu, Penari lebih memilih menjadi diri sendiri daripada harus menjadi sosok orang lain. Dia lebih memilih Sepatu Balet kusamnya daripada highheels putri Esmeralda.

Sima ekspresi semua orang di ruangan itu. Semua penonton di sana benar-benar ikut larut dalam perasaan Penari Balet. Seakan mereka tahu apa yang di rasakan Penari Balet, hingga mereka pun ikut meneteskan airmata ketika terlihat di atas panggung sana ada tetes air mata jatuh ke lantai. Dia berputar ke sana sini, seolah-olah mencari sesuatu dan pada akhirnya dia merasakan ketakutan berlebihan. Ketakutan dia tak bisa melihat Kekasih lagi. Terjatuhlah dia di lantai panggung untuk mengakhiri tariannya. Pada saat itu juga semua orang yang ada di sana bertepuk tangan meriah untuk Penari Balet, termasuk Ratu Langit dan semua Balerina-Balerina.

Nyaris tertutup kedua mata Penari Balet, ketika tepat di depan sana dia mendapati sosok Kekasih berdiri menatapnya dengan tersenyum, bertepuk tangan padanya, dan membuat gerakan balet kecil coba memperagakan gerakan yang seringkali Penari Balet itu lakukan. Penari Balet menyebut gerakan itu ‘In Heart’ yang bearti aku bangga padamu. Tersenyumlah Penari Balet melihat itu semua. Akhirnya apa yang ingin dia sampaikan bisa terlihat oleh Kekasih. Betapa dia mencintai Sepatu Baletnya dan Kekasihnya.

Di saat yang hampir bersamaan juga, tiba-tiba merapatlah kedua mata Penari Balet. Tak terbuka lagi. Sekuat apapun Kekasih coba membangunkan Penari Balet, tak akan bisa. Karena Penari Balet telah hilang. Selamanya. Seperti tajuk konser dia malam itu SAMPAI MATI


-Menjadi diri sendiri tak lagi menjadi hal yang aneh untukku. Apapun alasannya tak lagi bisa ku terima, termasuk perasaanku sendiri. Sepatu balet selalu ada di kaki Penari Balet. Sampai nanti..”

♥, sitauLon

Kecewa

•June 8, 2010 • 2 Comments

Ini gawat. Susah tuk di relakan. Bukan dendam, ataupun tantangan adu nyali. Hanya saja ku kecewa..

Tapi jika memang aku pernah merasa kecewa, atau saat ini aku masih merasa kecewa apakah aku salah? Lihatlah pecahan hati di tanganku ini. Begitu gampangnya kedua mataku memandang pecahan hati yang telah membiru hampir beberapa tahun lamanya di rongga dadaku. Warnanya tak lagi berwarna merah, tapi warna biru tua hampir mendekati hitam. Inikah warna rasa kecewa itu? Aah… ini tak masuk akal bagiku. Sungguh.

Duduk di depan kaca. Lihat diri sendiri. Jangan pejam mata dulu, tetap tatap diriku. Jelas. Lebih jelas lagi. Makin jelas teramat.

Inikah aku? Inikah wanita yang mengaku kecewa? Tak pernah ku mengenalnya, bertatap muka dengannya, sekedar menyapa atopun berani memimpikannya. Untukku, kecewa adalah sosok yang tak terjamah oleh kasat mata dan pikiran. Meski begitu, sanggup aku sering mengulang untuk merasakannya. Dan bila sekarang aku kecewa atas batas kuasa yang tak bisa ku kendalikan lagi, aku bisa apa?  Dan ini karena ulah kalian semua!! Jadi jangan anggap ini omong kosong!! Bukan!!!

Ini seperti dosa kecilku. Ini gelagat tak baikku. Maafkan aku. Aku mohon..

Bila seperti ini keharusannya, aku memilih tak punya hati dan rasa. Jadi tak ku rasakan kecewa, bahagia, sedih atopun sakit hati. Cukup  taruh rasa hambar di dekat jantungku saja. Baru itu namanya aku hidup..” tak ada lagi airmata berbentuk tetesan beserta isaknya. Ini lebih miris dari kedengarannya, sementara kedua mata ini terus meredup dan muka tertunduk.

Berdiri ku menghampiri kaca besar di hadapanku. Ku letakkan pecahan hati kecewaku di atas meja rias. “Tak ada harapan lagi..” ucapku sesaat lalu berjalan menjauh dari meja. Biarlah pecahan hati kecewaku tergeletak di sana.

Kembali ku melangkah keluar rumah. Terpampang jelas langit luas tak terbatas. Sampai di titik mana ku bisa menatapnya, tak akan pernah bisa. Tugasku hanya satu, mencari tempat tinggal Malaikat di salah satu bintangnya. Tapi sayangnya tak ada bintang terlihat di penglihatanku. Jadi bagaimana mungkin ada harapan itu. Berharap Malaikat keluar dari rumahnya dan menemuiku. Mencariku. Menemani kecewaku. Mengembalikan pecahan hati kembali utuh dan menyatu dengan jantungku.

Haaahh..

Alam memang menyayangiku. Tak ada berisik angin dingin seperti biasanya. Ku tahu ini musim gugur. Semua daun-daun yang berwarna hijau berubah coklat dan gugur satu persatu. Musim ini musim penantianku. Musim kesayangan Malaikat yang bearti pada musim ini salah satu Malaikat akan keluar dari rumahnya dan turun ke bumi.

Malaikat di sana.. Aku pernah merasa kecewa. Sekarang pun masih. Bila kamu lewat depan rumahku, mampirlah sebentar di sini. Tengoklah hatiku. Hatiku telah pecah menjadi warna biru tua. Sumpah sakit hati atas perlakuan mereka yang dengan sadar tega menyakitiku pun telah ku ucap. Tapi itu dulu.. Sekarang dibawah langitmu, aku berdoa sambunglah pecahan hatiku. Restuilah hati ini kembali utuh dan kembalikan kebahagian mereka yang telah menyakitiku. Aku ikhlas. Jika di ijinkan olehmu..” tak ada lisan terucap. Hanya tatapan mata penuh permohonan yang ku pertontonkan ke atas langit. Seperti inilah kira-kira doaku untuk Malaikat. Di dalam malam, ku berdoa berharap Malaikat kan mencabut sumpah atas rasa kecewa dan sakit hatiku ke mereka.

Semua yang hidup di malam ini. Mungkin tingkahku ini agak konyol. Berdiri menatap langit sampai bosan berharap satu Malaikat mampir ke rumah, menunjukkan wujudnya dan menyambung pecahan hatiku. Ku tahu tak ada bintang malam ini, tapi tak apa. Biarkan aku tetap berdoa di bawah langitnya. Anggap saja beginilah caraku menenangkan diri.

“Untuk rasa kecewa ini. Bekerjasamalah denganku, jangan terlalu keras kepala. Aku sakit hati karena perlakuan mereka, tapi aku juga tak mau seperti ini. Ingin ku lepas rasa kecewa dan sakit hati ini dengan ikhlas, walopun tanpa ada ucap maaf mereka yang menyakitiku. Tapi kecewa ini terlalu berlebihan.Sakit hatinya kedarung banyak. Dan apa susahnya untuk mereka minta maaf padaku? Maka ku cabut sumpahku dan bahagialah mereka jika memang itu menjadi takdir mereka..” ku nasehati diri sendiri dengan banyak harap orang yang telah menyakitiku pun bisa merasakannya lalu minta maaf padaku.ku nasehati diri sendiri dengan banyak harap orang yang telah menyakitiku pun bisa merasakannya lalu minta maaf padaku.

“Selamat malam Malaikat..” dan ku tutup pertemuanku dengan langit malam bersamaan dengan langkah kakiku berjalan masuk ke dalam rumah.

————————————–

Dulu waktu aku kecil, aku pernah bertanya pada bundaku tersayang. Bunda.. Malaikat itu ada ga sih? Apakah aku bisa bertemu dengannya? Bisa bermain dengannya juga?” Lalu bunda menatap ke dalam mataku sambil mengusap-usap keningku. Dengan nada lembutnya beliau berkata padaku.. Coba lihat ke atas sana sayang..” mataku pun mengikuti arah telunjuk bundaku mengarah. Tepat di atas kepalaku, di langit luas itu.

“Kamu lihat bintang-bintang di atas sana itu sayang? Nah.. Malaikat tinggal di salah satu bintang itu. Tapi Malaikat gak bisa di temui, dia juga ga bisa di ajak bermain. Malaikat hanya bisa melihat kita dari atas sana dan ga pernah turun ke bumi..” lanjut bundaku berbicara.

“Satu lagi..” bisik ibu mengagetkanku ketika aku tengah memperhatikan bintang-bintang di atas kepalaku. “Suatu saat nanti.. di salah satu musim gugur, Malaikat itu akan turun dari langit dan akan memilih satu doa untuk di kabulkan……….” bunda terus berbicara sementara aku hanya menganggukan kepala tanda aku mengerti padahal dalam otak kecilku, aku terus berpikir tanpa jelas ke mana arah tujuan pertanyaanku. Apakah kelak Malaikat di atas sana pun akan mengabulkan satu doaku? Apakah Malaikat akan memilihku? Bagaimana aku bisa ke rumah Malaikat dan menemuinya? Ini itu, banyak pertanyaan tak terjawab. Entahlah. Semua berputar-putar di otak kecilku dan terabaikan begitu saja.

————————————–

“Selamat malam, Rusia..” tampak Malaikat bersayap putih dengan wajah bersinar keemasan berdiri tegak dengan senyum di bibirnya melihat Rusia dari luar rumahnya. Malaikat tak perlu mengintip. Dia bisa melihat Rusia yang tengah duduk di depan kaca sembari memandangi pecahan hatinya dengan jelas tanpa ada batas tembok dan pintu.

“Berhasil kamu memikat aku mampir ke rumahmu. Telah ku lihat pecahan hati warna birumu. Jadi, tak mungkin tak untukku sempurnakan satu doamu di musim gugur ini. Adalah kamu yang terpilih untukku, Rusia..” Malaikat  pun tersenyum dengan gayanya duduk santai di atas udara. Terus memandangi tingkah konyol Rusia yang menurut dia adalah suatu hal yang lucu. Sampai Rusia tertidur dan sebelum bintang berhenti mengejar malam.

Akhirnya….

Doa terpilih di musim gugur itu memang ada. Dan Malaikat itu pun ada. Hanya saja Malaikat tak bisa kita temui. Sampai kapanpun..

-Ingat.. doa orang yang tersakiti dan anak yatim itu selalu terkabulkan. Begitu sakit hati itu terasa, maka sumpah sakit hatipun bisa saja terucap. Maka minta maaflah sebelum kecewa dan sakit hati berbalik padamu…-


♥, sitauLon

Bagai Langit dan Bumi

•May 27, 2010 • Leave a Comment

Ok.. wanita yang duduk di meja seberang sana dan sedang tertawa itu, namanya Bumi. Bumi memang tak sesexy wanita di club malam itu, tak sepintar wanita yang jago bahasa inggris itu, tak sefeminin wanita highheels itu, tak semenor wanita kaya itu, tak seberuntung miss branded itu, tak setenar wanita highclass juga. Bahkan dia selalu terlihat bodoh bila berbicara dengan laki-laki yang ada di hadapannya itu, Langit. Tapi tanpa harus di sengaja, dia sanggup membuat Langit melihatnya sekali. Dari malam itu sampai saat ini.

Bumi hadir untuk Langit tak seperti dugaan semuanya. Bumi memang tak butuh semuanya seperti apa yang kalian butuhkan, dia tak pernah berpikir seperti apa yang kalian semua pikirkan, dia tak pernah meminta seperti apa yang kalian minta bahkan dia juga tak pernah berharap seperti apa yang kalian semua, wanita-wanita harapkan dari Langit. Saking Bumi seperti itu, Langit pun tak sanggup bila harus tak melihatnya lagi. Dari malam itu sampai saat ini…

Bumi tersenyum pada Langit. Dari malam itu..

Langit melihat Bumi. Selalu..

Langit memilih Bumi. Pada akhirnya..

Berhenti mengatakan ini kisah cinta ‘Bagai Bumi dan Langit’. Bagaimana kalo kalian ibaratkan ini seperti kisah cinta Cinderella di lamar sang Pangeran. Terdengar lebih menyenangkan kan? Jadi pliss, berhentilah menghina Bumi. Jangan menganggap kalian semua lebih pantas mendampingi Langit ketimbang Bumi. Ketahuilah.. ketika kalian menghina Bumi, pada akhirnya kalian harus mengerti seperti apa diri kalian yang menjadi kaum munafik. Pura-pura baik di depan, dalam hati kalian terus mencari cela Bumi. ‘Apa hebatnya Bumi?’ ‘Kenapa Langit tak memilih aku?’. Mungkin itu yang selalu menjadi pertanyaan kalian. Oh…

Ini bukan DramaQueen bila kalian temukan Langit memilih Bumi yang jauh dari kesenangan dunia Langit beserta segala isinya. Bukan juga rekayasa alam bila Langit memilih Bumi yang lekat dengan bau tanah berdebu tak berkasta.

Bumi bukan penggoda. Dia tak pintar menggoda. Dia tak punya kepintaran apa-apa malah. Tapi jangan pikir Bumi bodoh ya. Dia tahu semua kenakalan iri hati kalian. Pun begitu Bumi tetap senyum :)

Di meja itu, Bumi dan Langit bertemu. Duduk berdua. Menghirup udara yang sama. Jantung yang beda detak, tapi satu nadi. Sama-sama bertemu jodoh di matanya. Romantis..

Bumi tak pernah berhenti tertawa. Langit pun mengiyakan. Apa yang Bumi lakukan membuat Langit susah untuk tak mencintainya..

-Mungkin ini yang namanya kodrat alam. Hal yang wajar bila semua wanita berguman dalam hati mencari kelemahanku bersamanya. Teruslah seperti itu………..-


♥, sitauLon

dia padaku

•May 6, 2010 • 4 Comments

Dia datang padaku. Dengan permisi tanpa pamit namun tetap di sini. Di hantarkan oleh malam kesekian dari hitungan bulan Januari. Begitulah awalnya..

Mulailah aku bercerita..

Ini lebih dari sekedar catatan isi hati seorang wanita. Ini tentangku juga tentangnya. Ini tentang bahagiaku juga bahagianya. Ini tentang Pria dan Wanita. Sekalipun ini juga tentang cinta dan air matanya..

Banyak tanya yang harus ku jawab untuk hasil ini semua. Seperti halnya menanyakan padaku seolah Dunia ini hanya ada aku wanita sendiri, dan begitu banyak pilihan nama Pria, tapi kenapa justru aku memilih Dia? Sama juga kalo kita bertanya pada Dia, kenapa Dia memilih aku? Lalu kenapa tak kita sudahi saja semua pertanyaan ini dengan mendoakan bahwa Dia adalah jodohku dan aku adalah jodoh Dia? Kurasa itu terdengar lebih menyenangkan, ya kan?

Pernahkan kamu merasa yakin dengan seseorang dari pertama ketemu sampai kamu benar-benar yakin padanya? Pernahkah kamu merasa yakin semampu kamu bisa yakin, ketika ada seseorang datang melamarmu? Dan aku belum pernah merasa seyakin ini. Itu semua karena Dia padaku. Ada semacam kumpulan perasaan bahagia seolah tak mau di jelaskan sepeti apa rasanya. Mungkin seperti inilah impian semua wanita, termasuk aku. Dan aku mengalaminya. Sekarang ini. Aku bahagia..

Dia lain bukan beda. Dia tak perlu waktu lama tuk mengenalku, namun mampu meyakinkanku. Dia datang seperti doa di setiap bercandaku. Dia mirip seperti Pria harapku. Dia serius dalam bercandanya sekalipun bercanda menjadi serius baginya. Dia jarang memuji, sering kali tak acuh.. tapi dia menyayangiku, lebih. Dia jarang tertawa, sering kali meledekku.. tapi dia mencintaiku, lebih. Bukankah Pria seperti Dia benar tentang cintanya padaku. Lalu bagaimana aku tak menolak tuk tak menerima Dia?

Kamu tahu, banyak yang harus di korbankan di sini, termasuk untuk keputusan paling berani dalam hidupku, sampai dengan hari ini. Jadi bagaimana? Apakah sekarang aku pantas mendapatkan bahagiaku?

Dalam ingatanku, Dia adalah Lelaki Pianoku dan aku adalah Penari Hujannya. Tak percaya besok Dia kan datang melamarku. Dan aku malu *_*

Pati, 01 mei 2010

-tertulis di hari sebelum hari Dia melamarku-


BigkissBighug,

♥, sitauLon

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.